Kamis, 14 Maret 2013

Refleksi Kekuatan Pemuda Saat Ini

 Banyak yang berkata pemuda adalah aset bangsa. Pemuda dengan segarnya selalu mengajukan ide-ide kreatif dalam diskusi-diskusi sederhana yang diikutinya. Jika tujuannya positif, ide-ide tersebut akan diapresiasi, dapat memberi manfaat, dan pemiliknya sudah barang tentu akan dihargai. Itulah yang mendasari koaran Bung Karno puluhan tahun lalu yaitu, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia!” Namun, apa jadinya jika ide-ide tersebut digunakan untuk tujuannya yang tidak tepat? Kiranya itu yang melatarbelakangiku menyusun tulisan ini selain sebagai respon diperingatinya hari sumpah pemuda 28 hari yang lalu.
    Banyak faktor yang menjadikan pemuda akhirnya terjerumus dalam hal-hal yag merugikannya, bahkan orang-orang di sekitarnya. Mengingat kematangan mental pemuda yang masih berada pada taraf menengah, boleh jadi ia belum sepenuhnya dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Belum lagi budaya ikut-ikutan teman dan tren yang sedang berkembang, kondisi ekonomi yang berada di bawah rata-rata, lingkungan sosial yang kurang mendukung seringkali memaksa pemuda melakukan hal-hal yang dianggapnya dapat meretas eksistensinya di tengah-tengah kehidupan sosialnya. Sebab, pada dasarnya setiap orang ingin diakui sebagiamana layaknya manusia. Hal tersebut tidak menjadi masalah selama intensitas bimbingan orangtua dan upaya keluarga terdekat menujukkan arah yang semestinya masih merangkul bahu pemuda tersebut. Anggap saja hal tersebut sebagai manuver yang memang secara alami terjadi dalam masa pencarian jati diri pemuda. Akan tiba gilirannya grafik kematangan pemuda menjadi ajeg dan stabil seiring pengalaman dan pemahamannya akan hidup selama ini. Pendidikan moral dan tata laku juga perlu diberikan agar pemuda sedikit demi sedikit menyesuaikan antara apa yang selama ini telah dilakukannya dengan rujukan yang diberikan oleh orang-orang yang menyayanginya. Dengan sendirinya, ia akan membuat prioritas-prioritas yang akan mempengaruhi kesadarannya.
    Yang menjadi keprihatinanku baru-baru ini, seorang kenalan di kampus pernah bercerita tentang salah seorang temannya yang sungguh tidak tahu diri. Ia mengambil 2 kesempatan beasiswa sekaligus, namun sebagian besar uang beasiswa tersebut ia belanjakan untuk hal-hal yang tergolong mewah mengingat statusnya kini sebagai mahasiswa fakultas kedokteran. Aku pun sempat berniat mengambil 2 kesempatan beasiswa juga, tetapi itu tidak kulakukan mengingat beberapa peraturan yang harus dipatuhi sebagai penerima beasiswa dan tentu saja tujuanku bukan untuk bermewah-mewah seperti teman dari kenalanku itu. Yang menjadi pertanyaan, sudah seberapa matangkah kesadarannya sebagai mahasiswa fakultas kedokteran? Akankah ia bertanggung jawab atas nilai-nilai akademisnya sebagai penerima 2 beasiswa? Apa yang melatarbelakanginya melakukan pemborosan itu? Apakah keluarganya mengetahui hal itu? Apakah mungkin hanya karena keluarganya jauh darinya ia lantas melupakan nasihat-nasihat yang mungkin pernah diberikan padanya terkait hal itu? Atau, apakah keluarganya justru mendukung apa yang telah ia lakukan terhadap uang beasiswa yang diterimanya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab oleh narasumber yang semestinya itu, aku hanya mampu menadahkan tangan, berdoa untuk yang terbaik.
    Terkenang kembali olehku pesan-pesan seorang senior dalam mengemban tugas sebagai seorang mahasiswa, bahwa subsidi pemerintah telah banyak diberikan untuk pendidikan kami. Selayaknya hal tersebut menjadi acuan dalam merefleksikan kinerja yang selama ini telah kami lakukan. Akankah kami membiarkan fasilitas itu hanyut seketika? Tidak ada kesadaran dan nurani kami menyambut peluang emas yang bahkan tidak pernah dengan sungguh-sungguh kami minta? Bahkan, dengan mereka yang sungguh-sungguh menginginkan peluang emas tersebut kami terkadang berlaku sombong. Dalam menyelesaikan masalah-masalah kecil saja, akal kami terkadang sungguh manjanya. Padahal, kami disiapkan bekal dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi masalah-masalah yang lebih pelik. Aku masih ingat betul seniorku itu berkata, “Ingat-ingat aja berapa kepala keluarga yang menjadi tanggungan kita.” Rasanya hal itu bukan saja menuntut kewajibanku untuk memberi kepastian terhadap masa depan negeri ini, tetapi juga sekaligus menegaskan kepercayaan yang ia berikan kapadaku untuk dapat melakukan kewajiban itu.
    Yang terjadi padaku, bukan berarti jauh berbeda dengan teman dari kenalanku pada cerita sebelumnya. Tentunya aku banyak juga melakukan penyimpangan terhadap tugas-tugas yang kuemban baik sebagai mahasiswa, maupun sebagai penerima beasiswa. Namun, tujuanku tetap yang terbaik dan melalui tulisan ini, aku berusaha mengevaluasi penyimpangan-penyimpangan tersebut. Masalah-masalah di depan, marilah kita hadapi secara lebih bijaksana. Tanggung jawab yang dibebankan pada diri kita, marilah kita sambut dengan keyakinan untuk melaksanakannya sebab banyak pihak telah memberi dukungan dan banyak juga yang menanti turunnya tangan kita. Tidak perlu menunggu pemerintah atau orang lain untuk bertindak. Lakukan yang terbaik dengan tangan kita lebih dulu, maka bantuan akan datang dengan segera dan pekerjaan pun akan terasa lebih cepat, ringan, dan efektif. Jika rasanya tidak ada yang dapat kita berikan, doa, semangat, dan harapan selalu dapat menyuplai energi teman-teman kita. Melangkahlah dengan senyum Pemuda Indonesia yang bersinar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar