Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor)
berdiri di depan dalam menjaga kesatuan Indonesia. Secara konkret, GP
Ansor membuktikan komitmennya terhadap kebhinekaan Indonesia.
Demikian disampaikan penyanyi Edo Kondologit saat ditemui NU Online
usai acara Festival Budaya Pesantren yang menjadi awal peringatan
harlah ke-79 GP Ansor di ruang pertemuan Gedung Balai Kartini Kavling
37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.
“Kami
dari organisasi Taruna Merah Putih, sudah sering kali menjalin kerja
sama dengan GP Ansor. Kami sering berdiskusi terkait kebangsaan,
kepemudaan, kebhinekaan, merah putih, keindonesiaan,” kata Edo
Kondologit.
Saya pun, lanjut Edo, datang pada saat harlah GP
Ansor tahun lalu di Stadion Manahan Solo. Ideologi kita sama perihal
kebangsaan. Kita dan GP Ansor sama menjunjung tinggi kebangsaan yang
beragam.
Kita boleh berbeda secara agama, suku, dan bahasa. Namun
kita tidak bisa dipisahkan sebagai anak bangsa Indonesia. Indonesia lah
yang mendorong kuat kehadiran saya dalam festival ini. Dengan
Indonesia, saya dan GP Ansor sudah seperti saudara, tandas Edo.
Dalam Festival Budaya Pesantren, Edo Kondologit membawakan lagu “Di Bawah Tiang Bendera” karya Franky Sahilatua.
Sedangkan
seniman monolog Butet Kertaradjasa dalam pementasannya mengingatkan
sedikitnya 1500 kader GP Ansor kepada sosok Riyanto. “Bagi saya, Riyanto
itu muslim sejati,” kata Butet di atas panggung disambut tepuk tangan
hadirin.
Riyanto merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna
(Banser) yang meninggal akibat ledakan bom saat menjaga malam Natal di
Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 2000 silam.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Mei 2013
PERAN ULAMA' DALAM POLITIK PENDIDIKAN
oleh ; Imam Suprayogo Dua (Catatan) pada 16 Mei 2013 pukul 13:51
Dari aspek kunseptual, pendidikan
yang dikembangkan oleh para kyai atau ulama, lewat pesantren. sudah
sangat utuh dan jelas. Pendidikan pesantren sudah menyentuh aspek kognitif,
psikomotor, dan afektif. Padahal aspek yang disebutkan terakhir, ------aspek
afektif, yang akhir-akhir ini dianggap sangat penting, ternyata
diakui belum berhasil tersentuh oleh pendidikan pada umumnya.
Para ulama atau kyai, lewat
pendidikan pesantren, mampu menghasilkan lulusan yang lebih matang,
baik dari aspek spiritual, akhlak, dan sosialnya. Salah satu kelemahan
pesantren, pada umumnya adalah pada pengembangan sains dan teknologi.
Namun pada akhir-akhir ini, pesantren telah membuka program-program pendidikan
umum, seperti madrasah dan bahkan juga perguruan tinggi. Tidak sedikit
sekarang ini, pesantren merintis lembaga pendidikan dalam bentuk sekolah
tinggi, institut, dan bahkan universitas, dan membuka program-program studi
umum, seperti teknik, ekonomi, pertanian, psikologi, dan lain-lain.
Salah satu keunikan pendidikan di
pesantren adalah kemampuannya dalam membangun tradisi atau kultur. Pendidikan
di pesantren tidak saja dimaknai sebagai pengajaran, yaitu hanya sebatas
memberikan pelajaran oleh guru kepada murid dengan cara memilihkan bahan ajar,
menerangkannya, dan memberi tugas kepada siswa serta mengevaluasinya. Pendidikan
di pesantren benar-benar menanamkan sesuatu kepada alam pikiran, hati atau
jiwa, dan bahkan melakukannya hingga menjadi tradisi dan kekayaan pribadi
para santri-santrinya. Santri tidak cukup diajar tetapi juga dididik,
yaitu lewat pembiasaan dan pemberian contoh tentang apa yang diajarkan di
pesantren itu.
Kelebihan pendidikan di pesantre bahwa
konsep pendidikan pesantren, sejak Menteri Agama dijabat oleh Prof.KH.
Tholkhah Hasan mendapatkan perhatian serius. Kelebihan pendidikan pesantren
mulai saat itu banyak disebut, dan bahkan Prof. Tholkhah Hasan
ketika itu seringkali berkunjung dan memberikan bantuan,
berupa program-program peningkatan kualitas pendidikan Islam yang
dikembangkan oleh para kyai dan ulama dimaksud.
Apa yang dirintis oleh Prof. KH.
Tholkhah Hasan ternyata diteruskan oleh Menteri Agama berikutnya, yaitu
Prof. Said Agil al Munawar, Dr. Maftuh Basuni, dan sekarang ini oleh Dr.
Suryadharma Ali, M.Si. Para Menteri Agama ini memberikan perhatian kepada
pendidikan pesantren, baik lewat UU maupun peraturan pemerintah. Strategi itu
ditempuh sebagai upaya memberikan pengakuan, bahwa pesantren
sebenarnya adalah lembaga pendidikan khas Indonesia yang seharusnya mendapatkan
pengakuan dari pemerintah. Jasa lembaga pendidikan pesantren tidak saja
berupa ikut mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga melakukan peran-peran politik
dan bahkan secara langsung dahulu juga ikut serta dalam merebut kemerdekaan
bangsa dari penjajah.
Bahwa ternyata untuk mengembangkan
lembaga pendidikan Islam, termasuk pondok pesantren, tidak cukup
tanpa peran-peran pengambil keputusan politik. Tatkala para pengambil keputusan
politik tidak memihak pada pesantren, maka lembaga pendidikan Islam ini
terabaikan dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, jangankan mendapat
perhatian seperti diberi bantuan misalnya, keberadaannya saja tidak
diakui. Banyak alumni pesantren sekalipun pada kenyataannya cakap dan
cerdas, mereka sekedar mendaftar ke sekolah formal yang lebih tinggi atau
apalagi untuk mengisi peluang jabatan pada birokrasi pemerintah, semisal
mendaftar untuk menjadi calon perangkat desa saja, tidak dibolehkan.
Namun tatkala Menteri Agam
dijabat oleh orang-orang yang bisa memahami dan bahkan berpihak kepada
pesantren, maka alumni lembaga pendidikan Islam tradisional dimaksud, sudah
semakin mendapat pengakuan pemerintah. Bahkan dalam batas-batas tertentu,
mereka telah mendapatkan bantuan, seperti misalnya perbaikan ruang belajar,
fasilitas pemondokan, beasiswa, dan bahkan para alumninya
diberi peluang untuk meneruskan ke perguruan tinggi umum, seperti
ITB, UI, UGM, UIN, dan lain-lain.
Dalam diksusi
di UNISMA tersebut, saya kemukakan bahwa belajar dari kenyataan selama
ini, maka pada era politik sekarang, agar peran-peran kyai dan ulama di
negeri ini semakin besar, maka tidak ada salahnya, dan bahkan
seharusnya para kyai dan ulama, tidak hanya sekedar merasa
cukup memiliki Menteri Agama yang berpihak pada pesantren, tetapi lebih
dari itu adalah menjadi pemimpin bangsa dan negara ini. Manakala presiden
dan atau setidaknya wakil presiden RI adalah orang yang mampu memahami konsep
pendidikan pesantren dan memperjuangkannya, maka pesantren ke depan akan
mendapatkan tempat yang lebih jelas dan lebih baik.
Pendidikan yang berbasis agama,
apapun agamanya sebagai negara Pancasila, seharusnya menjadi
pilihan dan tidak sebagaimana masa sebelumnya, yaitu dianggap tidak
penting dan bahkan tidak diakui. Tahun depan, yakni tahun 2014, adalah tahun
politik. Terkait dengan pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan yang
berbasis agama pada umumnya, maka para Kyai dan Ulama ditunggu
kearifannya dalam menentukan pilihan politik, sebagai bagian dari
perjuangan politik pendidikan di negeri ini. Mereka seharusnya tampil untuk
memberikan arah agar ummat tidak salah pilih. Munculnya pemimpin yang
memahami aspirasi ulama itulah kunci kekuatan yang akan menentukan keberhasilan
pendidikan yang berbasis agama. Sebab apapun, di era
politik, semua tergantung pada pengambil keputusan politik. Wallahu
a’lam.
Selasa, 14 Mei 2013
HIDUP NRIMO
Tidak ada orang yang paling bijak. tidak ada orang yang paling sukses dalam hidup. Tidak ada orang yang paling pandai merangkai sebuah kalimat motivasi yg bisa mempengaruhi seseorang hingga orang itu bisa tiba-tiba bisa tumbuh lagi gairah hidupnya. Ini hanya sekedar untuk berbagi motivasi hidup. Jadi tidak peduli kalau pada akhirnya banyak yg tidak suka tulisan ini.
Semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami ditimpa masalah. Dari masalah kecil hingga masalah super besar yg bisa saja membuat orang berani bunuh diri. Masalah memang menjadi bagian dari hidup yg tak bisa dipisahkan. Sudah sunnatullah, karena masalah lah yg akan membuat hidup kita jadi tidak flat.
Banyak orang mungkin sering sekali stress ketika ditimpa berbagai macam masalah, lalu menyalahkan keadaan dan bahkan mungkin menyalahkan Tuhan atas apa yg dialami. Sampai memaki-maki, berteriak dengan kata-kata kasar hingga membuat stres dan akhirnya mengganggu pekerjaan dan karier .
Hingga pada akhirnya seseorang itu sadar, dengan semua yg di lakukannya itu sia-sia. hanya buang-buang energi. Mulailah merubah kebiasaan tidak bersyukur . Cobalah untuk senantiasa nrimo pada setiap masalah yg sedang dialami. Yakinlah apapun yg anda hadapi itu akan berguna untuk kelangsungan hidup kelak. Segalanya jadikan pelajaran dan jangan dipusingkan. Dan buktikanlah, serta cermatilah dalam-dalam memang Tuhan adalah Produser sekaligus Sutradara terbaik dalam kehidupan manusia. Ternyata peran kita di dalam hidup ini memang tak jauh beda dengan peran aktor/aktris sinetron. Kita tinggal menjalani apa yg ada dengan sebaik-baiknya, berakting, menjalankan peran kita sesuai keinginan Sutradara--Tuhan kita tanpa harus memaki-maki dan menyalahkan keadaan.
Manjur, gaya hidup nrimo itu akan banyak membawa perubahan dalam karakter. Kita akan merasa lebih tenang ketika menghadapi masalah. Dan karena ketenangan itu justru masalah sering sekali terpecahkan, karena pikiran dan tindakan kita menjadi terkontrol. Cobalah gaya hidup nrimo mulai sekarang.
Selasa, 30 April 2013
HUKUM TAHLIL
Apakah Diterima Shodakoh Yang Diperuntukan Pada Orang Yang Sudah Mati?
![]() |
Mungkin sering kita jumpai agenda simbah-simbah atau orang-orang
kuno saat malam jum'at, orang-orang kampung bersih rumah, genthong(
tempat penampuan air) diisi penuh, rumah dirapikan serapi
mungkin...katanya " orang yang meninggal pada malam jum'at pulang ke
rumah,sehingga rumah dibersihkan dengan tujuan biar arwah senang melihat
keadaan rumah yang rapi dan bersih" kemudian masak yang lebih enak dari
biasanya ...katanya "ini untuk simbah A,B,C ( yg sdah mninggal) dimakan
bersama/ ditukar dengan tetangga, ternyata adat itu bukan ispan jempol
dan asal-asalan ...karna ada hadis yang menceritakan tentang kepulangan
para arwah tersebut.
وقال صلى الله عليه وسلم : { إن أرواح المؤمنين يأتون في كل ليلة إلى سماء الدنيا ويقفون بحذاء بيوتهم وينادي كل واحد بصوت حزين ألف مرة يا أهلي وأقاربي وولدي يا من سكنوا بيوتنا ولبسوا ثيابنا واقتسموا أموالنا هل منكم من أحد يذكرنا ويفكرنا في غربتنا ونحن في سجن طويل وحصن شديد ؟ فارحمونا يرحمكم الله ولا تبخلوا علينا قبل أن تصيروا مثلنا يا عباد الله إن الفضل الذي في أيديكم كان في أيدينا وكنا لا ننفق منه في سبيل الله وحسابه ووباله علينا والمنفعة لغيرنا ؛ فإن لم تنصرف أي الأرواح بشيء فينصرفون بالحسرة والحرمان } ا هـ من الجامع الكبير
Berkata Nabi saw. = Sesungguhnya Arwah-arwah kaum mu'minin itu setiap malam mendatangi langit dunia dan mereka ( arwah ) berhenti / berdiri dengan terompah mereka pada rumah-rumah mereka ( selama masih hidup ),mereka memangil / menyeru ,,setiap kali seruan dengan suara susah seribu kali seruan .Wahai ahliku dan kerabatku dan anak2 ku ..Whai orang yg telah menempati rumahku, dan memaki baju tinggalanku dan yang telah membagi warisan hartaku..Adakah dari mu seseorang yang ingat padaku dan memikirkan Rantauanku ( merantau ) Aku dalam penjara yang sangat lama,dan dalam benteng yang sangat kuat. Maka Kasianilah aku,maka Alloh akan menghasihi kalian dan jangan lah kamu pelit terhadapku sebelum kalian menjadi seperti aku ( mati ) wahai hamba2 alloh. sesungguhnya apa yang utama di tanganmu itu juga di tanganku.Dan akau tidak menafkah kan nya di jalan alloh dan aku tidak menghitungnya serta perduli terhadapnya( harta ) dan sekarang manfaat nya terhadap selain ku. Maka bila kamu tidak memberikan sesuatu pada arwah2 tadi dengan sesuatu, maka mereka para arwah akan pergi dengan kerugian dan dia akan tercengah.
Jadi,memang demikan maksudnya dia itu minta dido'akan. memang pulang, tapi bagi yang mukmin,, dan minta ditahlilkan juga. apakah sampai pada orang yang sudah mati.Kita lihat hadist di bawah ini:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Begini, kita jangan hanya melihat hadist diatas saja tapi lihat hadist lain yang mengatakan, bahwa tahlilan, shodaqoh yang diperuntukan untuk mayit itu bisa sampai pada si mayit. kita lihat hadist dibawah ini:
Dalam kitab Nail al Authar juz IV juga disebutkan sebuah hadits soheh yang berbunyi:
وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ اِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يُوْصِ أَيَنْفَعُهُ اِنْ اَتَصَدَّقُ عَنْهُ؟ قَالَ نَعَمْ، (رواه أحمد ومسلم والنساء وابن ماجه)
Dari Abu Hurairah, ia meriwayatkan: Ada laki-laki datang kepada Nabi lalu ia berkata: Ayahku telah meninggal dunia dan ia tidak berwasiat apa-apa. Apakah saya bias memberikan manfaat kepadanya jika saya bersedekah atas namanya? Nabi menjawab: Ya, dapat (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’I, dan Ibnu Majah).
Hadits tersebut diatas menegaskan bahwa pahala shodakoh itu sampai kepada ahli kubur. Sementara di hadits shahih yang lain dijelaskan bahwa shodakoh tidak hanya berupa harta benda saja, tapi juga dapat berwujud bacaan dzikir seperti kalimat la illaha illallah,subhanallah,dan lain-lain sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut ini:
عَنْ اَبِي دَرْأَنْ نَاسًا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِي ص.م يَارَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ اَهْلِ الدُّثُوْرِ بِالْاُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا تُصَلَّى وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا تَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ اَمْوَالِهِمْ قَالَ اَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ اِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ (رواه مسبلم،١٦٧٤)
“Dari Abu Dzarr RA,ada beberapa sahabat berkata kepada Nabi SAW,” Ya Rosulullah, orang-oarng yang kaya bisa (beruntung) mendapatkan banyak pahala. (Padahal) mereka shalat seperti kami shalat. Mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Nabi SAW menjawab, “ Bukankah Allah SWT telah menyediakan untukmu sesuatu yang dapat kamu sedekahkan? Sesungguhnya setiap satu tasbih (yang kamu baca) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim :1674 ).
Dalam hadits lain disebutkan:
وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: تَصَدَّقُوْا عَلَى اَنْفُسِكُمْ وَعَلَى اَمْوَاتِكُمْ وَلَوْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ فَاِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَى ذَالِكَ فَبِأَيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ فَادْعُوْا لَهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَاِنَّ اللهَ وَعَدَكُمُ اْلاِجَابَةِ.
Sabda Nabi: Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air setejuk. Jika kalian tak mmampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat suci al-Qur’an, berdoalah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, Allh telah berjanji akan mengabulkan doa kalian.
Adzarami dan Nasa’i juga meriwayatkan hadis tentang tahlil dari Ibnu ‘Abbas RA.
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اَعَانَ عَلَى مَيِّتٍ بِقِرَائَةٍ وَذِكْرٍ اِسْتَوْجَبَ اللهُ لَهُ الْجَنَّةَ. (رواه الدارمى والنساء عن ابن عباس.)
Rasululloh bersabda: Siapa menolong mayit dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan Zikir, Alloh akan memastikan surga baginya.(HR.ad-Darimy dan Nasa’i dari Ibnu Abbas).
Hadis diatas juga didukung oleh hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ad-Daroqutni dari Anas bin Malik:
رَوَى اَبُوْ بَكْرٍ النَحَادِ فِىْ كِتَابِ السُّنَنِ عَنْ عَلِى بْنِ اَبِي طَالِبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ مَرَّ بَيْنَ اْلمَقَابِرِ فَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ اَجْرَهَا لِلْاَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنَ اْلاَجْرِ بِعَدَدِ اْلاَمْوَاتِ.
Diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Najjad dalam kitab Sunan bersumber dari Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan , Nabi bersabda: Siapa lewat diantara batu nisan, lalu membaca surat al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya untuk yang meninggal maka Alloh akan mengabulkannya.
Dalil-dalil inilah yang dijadikan dasar oelh para ulama tentang sampainya pahala bacaan al-Qur’an,tasbih, tahlil, shalawat yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal dunia. Begitu pula dengan sedekah dan amal baik lainnya.
Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitab Fatawa-nya, “sesuai dengan kesepakatan para Imam bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari semua ibadah, baik ibadah badaniyah seperti shalat, puasa, membaca al-Qur’an, ataupun ibadah maliyah seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku bagi orang yang berdoa dan membaca istighfar untuk mayit.”(Hukm al-Syari’ah al-Islamiyah fi Ma’tam al_Arba’in,hal 36).
Jadi Tahlilan,terus shodakoh untuk mayit hukumnya itu boleh dan ditrima.Tapi itu jelas bit'ah, karna di zaman nabi tidak ada tahlilan, tapi tidak bit'ah keji atau bit'ah dholalah
Minggu, 28 April 2013
PENGERTIAN TAWASUL
Tawasul[1]
berarti perantara atau penghubung, sebagaimana Allah memiliki Ruhul
Amiin, Jibril AS, untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW.
Demikianlah pencapaian makrifat kepada Allah, yakni terungkapnya hijab
dengan Allah melalui rantai-rantai wasilah, yakni perantara yang sampai
kepada Rasulullah. Demikian karena si hamba dhaif lagi faqir, maka
perlulah bertawassul kepada Balatentara Allah yang suci agar hajatnya
mudah sampai hadhirat Allah Yang Agung lagi Suci daripada gambaran hamba yang hina.
Perintah Allah Ta’ala dalam Al-Quran:
“Wahai
orang-orang yang beriman, taqwalah engkau kepada Allah dan carilah
wasilah sebagai jalan yang mendekatkan dirimu kepadaNya dan
bermujahadahlah (berjuanglah) pada jalanNya, supaya kamu mendapatkan
keberuntungan”.[2] (QS. Al-Maidah[5]:35).
DR. Muhammad
Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa Al-Wasilah adalah segala sesuatu
yang dijadikan Allah sebagai penyebab untuk mendekatkan diri kepada
Allah, dan penyambung untuk dipenuhNya segala kebutuhan. Untuk itu, demi
menjayakan tawasul, yang ditawasuli atau yang menjadi
perantara itu mesti mempunyai kedudukan dan kehormatan di sisi Allah SWT
sebagai yang dituju dengan tawasul.
Orang yang
bertawasul dengan perantara seseorang berkeyakinan bahwa orang tersebut
adalah orang saleh atau Wali Allah atau orang yang memiliki keutamaan
menurut prasangka baik terhadapnya. Orang-orang tersebut dianggapnya
sebagai orang yang dekat kepada Allah dan dicintaiNya. Sebab orang yang
menanamkan rasa cinta dan keyakinan yang erat pada kalbunya akan dibalas
karenanya. Allah SWT berfirman: “….. Dia mencintai mereka dan mereka
pun mencintai-Nya..” (QS. Al-Maidah[5]:54). Jadi orang yang bertawasul
menurut hakikatnya bertawasul kepada Allah.
Seakan-akan orang
yang bertawasul kepada seorang Awliya itu berkata, “Wahai Tuhan,
sesungguhnya aku mencintai si Fulan. Aku berkeyakinan bahwa ia
mencintai-Mu. Ia adalah orang yang suka beribadah secara ikhlas untuk
berbakti kepada-Mu. Saya juga berkeyakinan bahwa Engkau mencintainya dan
meridhainya. Maka aku bertawasul – membuat perantara – untuk menuju
kepada-Mu dengan perantaraan kecintaanku kepadanya dan lewat keyakinanku
mengenai dirinya, hendaklah Engkau mengabulkan permohonanku, dan ….”
Tetapi kebanyakan orang tidak mampu merinci keyakinan mereka mengenai
yang ditawasuli – yang menjadi perantara – dengan keyakinan bahwa Allah
SWT Yang Mengetahui – yang mengetahui segala ada di langit dan bumi
serta mengetahui kedipan mata dan apa yang tersembunyi di dada – itu
lebih jeli dan lebih mengetahui keyakinan orang yang bertawasul terhadap
yang ditawasuli.
Inilah juga yang
mendasari tawasul dengan rabithah, yang hanya membayangkan wajah seorang
Awliya (Mursyid) akan mendekatkan kalbu (dirinya) kepada Allah SWT, dan
yang berabithah itu tidak merinci apa-apa yang terbetik dalam dadanya.
Hal tersebut amat mujarab dan banyak terbukti, telah dilakukan oleh
banyak kalangan Ahli Tasawuf dan Hakikat.
Kata-kata
Al-Wasilah (perantara) yang dimuat ayat Al-Quran itu bersifat umum.
Dengan demikian, ia mencakup tawasul dengan zat atau pribadi yang mulia
dari kalangan para Nabi dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih
hidup maupun setelah wafatnya; juga mencakup tawasul kepada Allah dengan
perantaraan amal-amal nyata yang baik yang diperintahkan Allah SWT dan
Rasulullah SAW. Bahkan, amal perbuatan yang telah lalu dapat juga
dijadikan sebagai wasilah atau perantara dalam bertawasul.
DR. Muhammad Al-Maliki Al-Hasani menjelaskan beberapa makna bertawasul:
1. Tawasul
termasuk salah satu cara berdo’a dan salah satu pintu untuk menghadap
kepada Allah SWT. Jadi, yang menjadi sasaran atau tujuan asli yang
sebenarnya – dalam bertawasul – adalah Allah SWT. Sedangkan yang
ditawasuli (al-mutawassal bih) hanya sekedar perantara (wasithah dan
wasilah) untuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan
demikian, siapa yang berkeyakinan selain demikian, sungguh ia telah
menyekutukan Allah.
2. Sesungguhnya
yang bertawasul itu tidak bertawasul dengan (menggunakan) perantara
(al-mutawassal bih), kecuali karena ia mencintai perantara itu, seraya
berkeyakinan bahwa Allah SWT-pun mencintai perantara tersebut. Jika
tidak demikian, ia akan termasuk manusia yang paling jauh dari perantara
tersebut, bahkan akan menjadi manusia yang paling benci kepadanya.
3. Jika
yang bertawasul berkeyakinan bahwa yang ditawasuli atau yang menjadi
perantara (al-mutawassal bih) itu berkuasa memberikan manfaat dan
menolak mudharat dengan kekuasaannya sendiri – seperti Allah atau lebih
rendah sedikit – maka ia telah menyekutukan Allah SWT.
Pada
intinya tawasul itu sendiri merupakan wujud birokrasi umat sekarang
terhadap umat terdahulu. Karena seandainya tidak ada jasa baik dan
ijtihad umat terdahulu, maka tidak akan mungkin ada Iman dan Islam umat
di akhir zaman. Inilah bukti komitmen orang yang bertawasul terhadap
keberadaan mereka, sebagai realisasi perilaku orang-orang yang
bermoral/berakhlak mulia.
Begitulah para
ahli Thariqat, bertawasul kepada guru-gurunya hingga kepada Rasulullah
SAW, yang menandakan keabsahan birokrasi Ilahiyah. Inilah kemudian yang
dapat menjadikan layaknya mandat seseorang dalam memangku sebuah
kepemimpinan semacam thariqat Rasul.
(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)
[1] Pengertian Tawasul secara perkataan:
“Bertawasul ia
kepadanya dengan suatu wasilah, sama dengan mendekatkan diri ia
kepadanya dengan suatu amal”. (Lisanul ‘Arab, Juz XIV: 250)
[2] Dalam
Al-Quran ada 2 tempat yang menyebutkan ‘Wasilah’, satu ayat lainnya
Surat Al-Isra’[17]: 57): “Mereka mencari perantara untuk mendekatkan
diri kepada Tuhan”.
Pembahagian Tawasul
Tawasul itu
terbagi menjadi tiga tingkatan nilai. Pertama yang dinilai sebagai
Tawasul bis Silsilah, yakni bertawasul dengan jalinan yang bersambungan
antara orang yang bertawasul dengan Guru-guru talqin dzikir hingga
sampai kepada Rasulullah SAW. Tawasul inilah yang shahih dan utama, yang
bersifat menyampaikan, karena mempunyai hubungan yang erat antara orang
yang bertawasul dengan yang ditawasuli.
Yang kedua,
dinilai sebagai Tawasul bil Barokah[1]. Yakni bertawasul dengan para
Nabi, para Awliya dan Sholihin yang tidak mempunyai hubungan silsilah
dzikir dengannya, meskipun jalinan yang ditawasuli itu merupakan orang
yang amat dikenal kesalehannya seperti: Khalifah yang empat (Abu Bakar
Ra., Umar Ra., Utsman Ra., Ali Ra.), para Imam madzhab, para Mursyid,
Awliya, Shalihin, dsb. Bertawasul kepada mereka semua hanyalah sebagai
penghormatan, dan kita mengharapkan keberkahan dari kesalehannya.
Yang ketiga,
dimasukkan dalam kategori Tawasul lil Hadiyah. Yakni bertawasul atau
memberikan Fatihah kepada orang-orang yang mempunyai hubungan/hak dengan
kita, namun tidak mempunyai hubungan rantai zikir, seperti kedua orang
tua, saudara-saudara kita sesama muslim, dsb. Dan kita tidak boleh
menggunakan jalinan orang-orang yang masih diragukan kesalehannya,
apalagi yang masih mengharapkan ampunan dan syafa’at dari orang-orang
yang masih hidup. Secara syari’at kita-lah yang masih hidup yang pantas
menolong mereka, bukan mereka yang kita mintakan tolong untuk
menyampaikan hajat kita kepada Allah SWT.
Alat perantara
zikir itu terdiri menjadi 2 bahagian: (pertama) dengan jalinan/tokoh
yang telah mendapat mandat kekhalifahan (istikhlaf), dan diakui
kesalehannya (dekat kepada Allah), dan (kedua) dengan amal saleh yang
telah dilakukannya. Berkenaan dengan masalah ini Berkata Syaikh Ismail
Al-Khalidi Rahimahullah:
“Dan wasilah
(jalan) itu dengan segala macam amal salih. Dan tiadalah diperoleh amal
salih itu kecuali dengan ikhlas. Dan tidaklah amal yang salih itu
kecuali bersih daripada campuran-campuran kekotoran hati. Dan bagi kami
telah berhasil dengan berbagai pengalaman-pengalaman bahwa sesungguhnya
jika kami menyibukkan dengan Rabithah, maka hilanglah campuran-campuran
lalai hati daripada amal-amal kami”. Jadi amal yang lalai itu hampa dan
dengan wasilah maka hilanglah lalai itu. Sebab hilangnya lalai itu ialah
Hudhurnya hati. Dan semulia-mulia & seutama-utama wasilah adalah
dengan Rabithah.
Contoh
bertawasul dengan amal adalah sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah
SAW kepada kita mengenai kisah 3 orang yang terhimpit di dalam gua.
Hadits itu adalah sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA. Berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
‘Terjadi
pada masa dahulu sebelum kalian, ada 3 orang berjalan-jalan hingga
terpaksa bermalam di dalam gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang berada
dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi
pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka:
‘Sungguh tiada suatu yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini,
kecuali jika bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah
kamu lakukan dahulu kala’. Maka berkata seorang di antara mereka: ‘Ya
Allah! Dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi
minuman susu pada seorangpun sebelum keduanya, yakni ayah ibu saya
meminumnya terlebih dahulu, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Maka
pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak
kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah
tertidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan saya pun
segan untuk membangunkan keduanya, dan saya pun tidak akan memberikan
minuman itu kepada siapa pun kecuali ayah bunda saya. Maka saya tunggu
keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum daripada
susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku
sedang menangis minta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah! Jika saya
berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhaanMu, maka
lapangkanlah keadaan kami ini’. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya
saja mereka belum dapat keluar daripadanya. Orang yang kedua berdo’a:
‘Ya Allah! Dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis
pamanku, maka karena sangat cinta kasihku, saya selalu merayu dan ingin
berzina padanya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat
ia menderita kelaparan dan datang minta bantuan kepadaku, maka saya
berikan padanya wang 120 dinar tetapi dengan janji bahwa ia
akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika
saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata:
‘Takutlah kepada Allah dan jangan engkau pecahkan tutup kecuali dengan
cara yang halal. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih
tetap menginginkannya, dan saya tinggalkan dinar emas yang telah saya
berikan kepadanya itu. Ya Allah! Bila saya berbuat itu semata-mata
karena mengharap KeredhaanMu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan
ini. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka belum
juga dapat keluar daripadanya’. Yang ketiga berdo’a: ‘Ya
Allah! Saya dahulu adalah seorang majikan yang mempunyai banyak buruh
pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu,
tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segeralah
ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali.
Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga
menjadi suatu kekayaan. Kemudian setelah lama datanglah buruh itu,
berkata: ‘Hai Abdullah! Berilah kepadaku upahku yang dahulu itu!’
Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu merupakan upahmu, berupa
unta, lembu, dan kambing serta budak penggembalanya’. Berkata orang itu:
‘Hai Abdullah! Kau jangan mengejekku!’ Jawabku: ‘Aku tidak mengejekmu’.
Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tiada meninggalkan
satupun daripadanya. Ya Allah! Jika saya berbuat itu karena mengharapkan
KeridhaanMu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini’. Tiba-tiba
menyisihlah batu itu hingga keluar mereka semua dengan selamat’.[2]
Sedangkan contoh
bertawasul dengan jalinan adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani
dalam Mu’jamus Shagir, Al-Hakim Naisaburi dalam Mustadrak ash Shihhah,
Abu Nu’aim dan Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah, Ibnu ‘Asakir Syami
dalam Tarikh-nya, dan Imam Hafizh As-Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur
serta dalam Ruhul Ma’ani dengan sanad dari S. Umar bin Khatthab, menukil
bahwa Nabi SAW bersabda:
“Ketika
Nabiyyallah Adam melakukan dosa, ia menengadahkan kepalanya ke langit
dan berkata: ‘Wahai Tuhan, aku memohon kepadaMu dengan Haq Muhammad agar
Engkau mengampuniku’. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Siapakah
Muhammad?’ Nabiyyallah Adam menjawab: ‘Ketika Engkau menciptakanku, aku
mengangkat kepala ke arah ‘ArasyMu, dan lalu aku melihat, di sana
tertulis: Laa Ilaaha Illallaaah Muhammadur Rosulullaah. Akupun berkata
kepada diriku, bahwa tiada seorangpun yang lebih agung daripada orang
yang namanya telah Engkau tuliskan di samping NamaMu’.
Ketika itu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Dialah Nabi yang terakhir
daripada keturunanmu, dan jika tidak karena dia, niscaya Aku tak akan
menciptakanmu’.
Dalam suatu
hadits yang ditakhrijkan Ibnu Majah dan An-Nisa‘i dalam Sunan-nya,
demikian pula At-Tirmidzi (beliau memberikan nilai shahih atasnya),
disebutkan:
“Bahwa seorang
buta pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata: ‘Yaa Rasulullah,
sesungguhnya aku mendapat musibah pada mataku, maka berdo’alah engkau
untukku kepada Allah’. Maka sabda Nabi SAW kepadanya: ‘Berwudhulah
engkau dan shalatlah 2 raka’at, lalu katakan demikian: Yaa Allah,
sesungguhnya aku bermohon dan menghadap kepada Engkau, dengan Nabi-Mu
Muhammad. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menuntut syafa’at engkau
dalam pengembalian penglihatanku ini. Yaa Allah, perkenankanlah syafa’at
Nabi ini kepadaku. Dan sabdanya: ‘Maka jika ada bagimu sesuatu
keperluan, katakanlah seperti itu!’ ”
Demikianlah
pembagian tawasul yang penting untuk kita pahami dengan sebenarnya.
Selanjutnya cara bertawasul yang benar, harus diisi dengan
hajat/keperluan yang benar pula. Sebab di masa sekarang ini, banyak
orang yang menyalahgunakan tawasul untuk keperluan yang jauh dari Ridha
Allah SWT, tidak sebagaimana para pendahulu kita yang menggunakan
tawasul semata-mata untuk ibadah, atau mendekatkan diri (ber-taqarub)
kepada Allah semata. Di antaranya adalah untuk mendapatkan ilmu-ilmu
tertentu seperti kebal, dll., dijadikan nadzar untuk maksud-maksud
duniawi, dsb. Kenyataan inilah yang membuktikan pentingnya pembimbing
dzikir/tawasul bagi orang yang sedang menekuni jalan ini agar tetap
lurus tawasul-nya awal maupun akhir.
Wallahu A’lam.
(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)
Sabtu, 01 September 2012
PERLUKAH SATPOL PP DIPERSENJATAI ?
Mengulas usulan Pemkot Malang tentang perlunya SATPOL PP dipersenjatai
Pemerintah Kota Malang baru-baru ini mengusulkan kepada DPRD agar Satuan Polisi Pamong Praja dipersenjatai. Bukan tanpa alasan usulan itu diajukan, pemberian senjata api itu mengacu pada Rancangan Peraturan Daerah
(Ranperda) tentang tata kerja Satpol PP tahun 2012. Dalam aturan itu
juga dijelaskan penggunaan senjata bersifat kondisional. Alasan lainnya yaitu untuk mendukung kinerjanya
mengawal peraturan daerah. Namun, senjata api (senpi) yang diberikan
itu hanya dikhususkan bagi komandan peleton hingga pimpinan. Pembekalan penggunaan senpi bagi Satpol telah tercantum dalam PP Nomor 6
Tahun 2008, dan legal apabila dijalankan di Kota Malang.
Namun usulan itu menuai pro dan kontra. seperti DPRD Kota Malang kurang setuju dengan usulan Pemkot Malang terkait
rencana Satpol PP untuk dipersenjatai. Dengan pertimbangan, saat ini
Kota Malang masih dinilai kondusif. Pansus Ranperda tentang organisasi tugas Satpol PP berpendapat bahwa saat ini Satpol PP memang belum butuh untuk dipersenjatai. Sebab, yang
ditangani Satpol PP adalah bukan tindakan kriminal. Selain itu, saat ini
kondisinya malang masih sangat kondusif. Jika untuk penegakan Perda, lebih baik Satpol PP menggunakan pendekatan
secara preventif daripada konfrontatif. Dengan cara itu, hasilnya pasti
akan lebih maksimal.Lain lagi dengan pendapat pengamat militer, menurutnya SATPOL PP sudah saatnya untuk dipersenjatai. Meskipun ranah yang ditanganinya bukanlah ranah kriminal, namun tugas yang diembannya sangatlah dekat dengan "kekerasan" yang bisa jadi dapat membahayakan jiwa anggota Satpol PP. Lagi pula memegang senjata api itu ada prosedur yang harus dilewati. Jadi tidak perlu dikhawatirkan.

Lalu bagaiman tanggapan warga malang ? ...... mayoritas warga tidak setuju dengan usulan Pemkot Malang. Melihat potret Satpol PP selama ini yang identik dengan garangnya ketika bentrok dengan warga mungkin masuk akal dengan alasan itu. Warga mengkhawatirkan jika satpol PP benar-benar dipersenjatai nanti justru tambah arogan.
Namun semua itu bisa dikaji ulang. Kita yakin Wakil-wakil kita mampu memilih dan memilah serta meberlakukan kebijakan dengan bijaksana. Sebagai warga malang yang paling penting adalah terwujudnya kesejahteraan rakyat serta kehidupan yang damai. Salam satoe jiwa
Rabu, 29 Agustus 2012
KESEDERHANAAN, KEPEKAAN SOSIAL DAN KEPEDULIAN
Oleh : Farid Ulinnuha
( Ketua Ansor ranting Tamanayu )
Akhir-akhir ini kita sering mendengar anjuran untuk berprilaku hemat dalam segala hal. Anjuran itu tidak hanya datang dari pemerintah dengan programnya hemat energi, namun anjuran hemat juga sering didengungkan oleh beberapa iklan sebuah produk agar kita memilih barang yang lebih hemat. Jika kita renungkan lebih dalam, istilah hemat lebih mengarah pada pola hidup sederhana. Kita tentu tidak ingin anjuran itu hanya menjadi slogan saja, tetapi betul-betul hidup sederhana tanpa berlebih-lebihan materi, ucapan dan perbuatan serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosialnya.
Konsep hidup sederhana, Rosululloh mengajarkan kepada umatnya agar jangan makan dan minum terlalu kenyang. Jangan berpakaian berlebih-lebihan, bahkan dianjurkan untuk memberikan kelebihan kita pada hari ini kepada mereka yang membutuhkan. Dari konsep tersebut bisa disimpulkan bahwa perilaku hemat atau pola hidup sederhana merupakan manifestasi iman seorang muslim.
Pola hidup sederhana akan menumbuh kembangkan rasa solidaritas serta kepekaan sosial dalam diri kita untuk lebih peduli kepada sesama. Kita harus ingat mungkin diantara warga Ansor ada yang masih sulit perekonomiannya dan masih berpenghasilan rendah, dengan pola hidup sederhana mungkin kita bisa saling membantu dengan kelebihan kita hari ini. Pola hidup yang demikian akan memperkokoh persatuan dan meningkatkan kesadaran akan kebersamaan.
Namun tentunya sebagai warga dari sebuah organisasi yang cerdas kita dapat memberikan bantuan secara tepat, sehingga bagi orang yang kita bantu dapat pula digunakan secara tepat dan "positif". Artinya bantuan tersebut bisa di "gerakkan" secara terus-menerus yang akhirnya bisa mengangkat perekonomian secara sedikit demi sedikit. Sebab bentuk bantuan yang bersifat "membodohi" akan menjadikan orang yang kita bantu hidup dalam "ke-enjoy-an" yang sesaat, dan akhirnya akan kembali lagi pada kehidupan semula.
Jika kita melihat realita sekarang ini, mungkin hanya rakyat pedesaan dan orang-orang yang hidup dipinggiran kota sajalah yang mempraktekkan pola hidup sederhana. Mereka yang berkecukupan belum sepenuhnya menerapkan pola hidup sederhana, tapi justru malah terkesan memperlihatkan kemewahan.
Langganan:
Postingan (Atom)










