Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

GP Ansor Kawal Kebhinekaan Indonesia

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) berdiri di depan dalam menjaga kesatuan Indonesia. Secara konkret, GP Ansor membuktikan komitmennya terhadap kebhinekaan Indonesia.

Demikian disampaikan penyanyi Edo Kondologit saat ditemui NU Online usai acara Festival Budaya Pesantren yang menjadi awal peringatan harlah ke-79 GP Ansor di ruang pertemuan Gedung Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

“Kami dari organisasi Taruna Merah Putih, sudah sering kali menjalin kerja sama dengan GP Ansor. Kami sering berdiskusi terkait kebangsaan, kepemudaan, kebhinekaan, merah putih, keindonesiaan,” kata Edo Kondologit.

Saya pun, lanjut Edo, datang pada saat harlah GP Ansor tahun lalu di Stadion Manahan Solo. Ideologi kita sama perihal kebangsaan. Kita dan GP Ansor sama menjunjung tinggi kebangsaan yang beragam.

Kita boleh berbeda secara agama, suku, dan bahasa. Namun kita tidak bisa dipisahkan sebagai anak bangsa Indonesia. Indonesia lah yang mendorong kuat kehadiran saya dalam festival ini. Dengan Indonesia, saya dan GP Ansor sudah seperti saudara, tandas Edo.

Dalam Festival Budaya Pesantren, Edo Kondologit membawakan lagu “Di Bawah Tiang Bendera” karya Franky Sahilatua.

Sedangkan seniman monolog Butet Kertaradjasa dalam pementasannya mengingatkan sedikitnya 1500 kader GP Ansor kepada sosok Riyanto. “Bagi saya, Riyanto itu muslim sejati,” kata Butet di atas panggung disambut tepuk tangan hadirin.

Riyanto merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang meninggal akibat ledakan bom saat menjaga malam Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur, tahun 2000 silam.

PERAN ULAMA' DALAM POLITIK PENDIDIKAN


oleh ; Imam Suprayogo Dua (Catatan) pada 16 Mei 2013 pukul 13:51
            Dari aspek kunseptual, pendidikan yang dikembangkan oleh para kyai atau ulama, lewat pesantren.  sudah sangat utuh dan jelas. Pendidikan pesantren sudah menyentuh aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Padahal aspek yang disebutkan terakhir, ------aspek afektif, yang akhir-akhir ini dianggap sangat penting,   ternyata diakui  belum berhasil tersentuh oleh pendidikan pada umumnya.
            Para ulama atau kyai,  lewat pendidikan  pesantren, mampu menghasilkan lulusan  yang lebih matang,  baik dari aspek spiritual, akhlak, dan sosialnya. Salah satu kelemahan pesantren, pada umumnya  adalah pada pengembangan sains dan teknologi. Namun pada akhir-akhir ini, pesantren telah membuka program-program pendidikan umum, seperti madrasah  dan bahkan juga perguruan tinggi. Tidak sedikit sekarang ini, pesantren merintis lembaga pendidikan dalam bentuk sekolah tinggi, institut, dan bahkan universitas, dan membuka program-program studi umum, seperti teknik, ekonomi, pertanian,  psikologi,  dan lain-lain.
            Salah satu keunikan pendidikan di pesantren adalah kemampuannya dalam membangun tradisi atau kultur. Pendidikan di pesantren tidak saja dimaknai sebagai pengajaran, yaitu hanya sebatas memberikan pelajaran oleh guru kepada murid dengan cara memilihkan bahan ajar, menerangkannya, dan memberi tugas kepada siswa serta  mengevaluasinya. Pendidikan di pesantren benar-benar menanamkan sesuatu kepada alam pikiran, hati atau jiwa, dan bahkan melakukannya hingga menjadi tradisi dan kekayaan pribadi  para santri-santrinya. Santri tidak cukup  diajar tetapi juga dididik, yaitu lewat  pembiasaan dan pemberian contoh tentang apa yang diajarkan di pesantren itu.    
            Kelebihan pendidikan di pesantre bahwa konsep pendidikan pesantren, sejak Menteri Agama  dijabat oleh Prof.KH. Tholkhah Hasan mendapatkan perhatian serius. Kelebihan pendidikan pesantren mulai  saat itu banyak disebut,  dan bahkan Prof. Tholkhah Hasan ketika itu  seringkali  berkunjung dan memberikan bantuan,  berupa program-program peningkatan kualitas pendidikan Islam yang dikembangkan oleh para kyai dan ulama dimaksud.
            Apa yang dirintis oleh Prof. KH. Tholkhah Hasan ternyata diteruskan oleh Menteri Agama berikutnya, yaitu  Prof. Said Agil al Munawar, Dr. Maftuh Basuni, dan sekarang ini oleh Dr. Suryadharma Ali, M.Si. Para Menteri Agama ini memberikan perhatian kepada pendidikan pesantren, baik lewat UU maupun peraturan pemerintah. Strategi itu ditempuh   sebagai upaya memberikan pengakuan,  bahwa pesantren sebenarnya adalah lembaga pendidikan khas Indonesia yang seharusnya mendapatkan pengakuan dari pemerintah.  Jasa lembaga pendidikan pesantren tidak saja berupa ikut mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga melakukan peran-peran politik dan bahkan secara langsung dahulu juga ikut serta dalam merebut kemerdekaan bangsa dari penjajah.
           
Bahwa ternyata untuk mengembangkan lembaga pendidikan Islam, termasuk  pondok pesantren,  tidak cukup tanpa peran-peran pengambil keputusan politik. Tatkala para pengambil keputusan politik tidak memihak pada pesantren, maka lembaga pendidikan Islam ini terabaikan dalam waktu yang cukup lama.  Bahkan, jangankan mendapat perhatian seperti diberi bantuan  misalnya, keberadaannya saja tidak diakui. Banyak alumni pesantren sekalipun pada kenyataannya  cakap dan cerdas, mereka sekedar  mendaftar ke sekolah formal yang lebih tinggi atau apalagi untuk mengisi peluang jabatan pada birokrasi pemerintah, semisal mendaftar untuk menjadi calon perangkat desa saja, tidak dibolehkan.
            Namun tatkala  Menteri Agam dijabat oleh orang-orang yang bisa memahami dan bahkan berpihak kepada pesantren, maka alumni lembaga pendidikan Islam tradisional dimaksud, sudah semakin mendapat pengakuan pemerintah. Bahkan dalam batas-batas tertentu, mereka telah mendapatkan bantuan, seperti misalnya perbaikan ruang belajar, fasilitas pemondokan, beasiswa,  dan bahkan  para alumninya  diberi peluang untuk meneruskan ke perguruan tinggi umum,   seperti ITB, UI, UGM, UIN,  dan lain-lain.
 Dalam diksusi di UNISMA tersebut,  saya kemukakan bahwa belajar dari kenyataan selama ini, maka pada era politik sekarang, agar peran-peran kyai dan ulama  di negeri ini semakin  besar, maka  tidak ada salahnya, dan bahkan seharusnya para kyai dan ulama,    tidak hanya sekedar merasa cukup memiliki Menteri Agama yang  berpihak pada pesantren, tetapi lebih dari itu  adalah menjadi pemimpin bangsa dan negara ini. Manakala presiden dan atau setidaknya wakil presiden RI adalah orang yang mampu memahami konsep pendidikan pesantren dan memperjuangkannya,  maka pesantren ke depan akan mendapatkan tempat yang lebih jelas dan lebih  baik.
           
Pendidikan yang berbasis agama, apapun agamanya sebagai negara Pancasila,  seharusnya  menjadi pilihan dan tidak sebagaimana masa sebelumnya,  yaitu  dianggap tidak penting dan bahkan tidak diakui. Tahun depan, yakni tahun 2014, adalah tahun politik. Terkait dengan pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan yang berbasis agama pada umumnya, maka para Kyai dan Ulama ditunggu  kearifannya dalam menentukan pilihan politik,  sebagai bagian dari perjuangan politik pendidikan di negeri ini. Mereka seharusnya tampil untuk  memberikan arah agar ummat tidak salah pilih. Munculnya pemimpin yang memahami aspirasi ulama itulah kunci kekuatan yang akan menentukan keberhasilan pendidikan  yang  berbasis agama. Sebab apapun,  di era politik,  semua tergantung  pada  pengambil keputusan politik. Wallahu a’lam.

Selasa, 14 Mei 2013

HIDUP NRIMO


Tidak ada orang yang paling bijak. tidak ada orang yang paling sukses dalam hidup. Tidak ada orang yang paling pandai merangkai sebuah kalimat motivasi yg bisa mempengaruhi seseorang hingga orang itu bisa tiba-tiba bisa tumbuh lagi gairah hidupnya. Ini hanya sekedar untuk berbagi motivasi hidup. Jadi tidak peduli kalau pada akhirnya banyak yg tidak suka tulisan ini.

Semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami ditimpa masalah. Dari masalah kecil hingga masalah super besar yg bisa saja membuat orang berani bunuh diri. Masalah memang menjadi bagian dari hidup yg tak bisa dipisahkan. Sudah sunnatullah, karena masalah lah yg akan membuat hidup kita jadi tidak flat.
Banyak orang mungkin sering sekali stress ketika ditimpa berbagai macam masalah, lalu menyalahkan keadaan dan bahkan mungkin menyalahkan Tuhan atas apa yg  dialami. Sampai  memaki-maki, berteriak dengan kata-kata kasar hingga membuat stres dan akhirnya mengganggu pekerjaan dan karier . 

Hingga pada akhirnya seseorang itu sadar, dengan semua yg di lakukannya itu sia-sia. hanya buang-buang energi.  Mulailah merubah kebiasaan tidak bersyukur .  Cobalah untuk senantiasa nrimo pada setiap masalah yg  sedang dialami. Yakinlah apapun yg anda hadapi itu akan berguna untuk kelangsungan hidup kelak. Segalanya  jadikan pelajaran dan jangan  dipusingkan. Dan buktikanlah, serta cermatilah dalam-dalam memang Tuhan adalah Produser sekaligus Sutradara terbaik dalam kehidupan manusia. Ternyata peran kita di dalam hidup ini memang tak jauh beda dengan peran aktor/aktris sinetron. Kita tinggal menjalani apa yg ada dengan sebaik-baiknya, berakting, menjalankan peran kita sesuai keinginan Sutradara--Tuhan kita tanpa harus memaki-maki dan menyalahkan keadaan.

Manjur, gaya hidup nrimo itu akan banyak membawa perubahan dalam karakter. Kita akan merasa lebih tenang ketika menghadapi masalah. Dan karena ketenangan itu justru masalah sering sekali terpecahkan, karena pikiran dan tindakan kita menjadi terkontrol. Cobalah gaya hidup nrimo mulai sekarang.

Selasa, 30 April 2013

HUKUM TAHLIL

Apakah Diterima Shodakoh Yang Diperuntukan Pada Orang Yang Sudah Mati?

  Mungkin sering kita jumpai agenda simbah-simbah atau orang-orang kuno saat malam jum'at, orang-orang kampung bersih rumah, genthong( tempat penampuan air) diisi penuh, rumah dirapikan serapi mungkin...katanya " orang yang meninggal pada malam jum'at pulang ke rumah,sehingga rumah dibersihkan dengan tujuan biar arwah senang melihat keadaan rumah yang rapi dan bersih" kemudian masak yang lebih enak dari biasanya ...katanya "ini untuk simbah A,B,C ( yg sdah mninggal) dimakan bersama/ ditukar dengan tetangga, ternyata adat itu bukan ispan jempol dan asal-asalan ...karna ada hadis yang menceritakan tentang kepulangan para arwah tersebut.

وقال صلى الله عليه وسلم : { إن أرواح المؤمنين يأتون في كل ليلة إلى سماء الدنيا ويقفون بحذاء بيوتهم وينادي كل واحد بصوت حزين ألف مرة يا أهلي وأقاربي وولدي يا من سكنوا بيوتنا ولبسوا ثيابنا واقتسموا أموالنا هل منكم من أحد يذكرنا ويفكرنا في غربتنا ونحن في سجن طويل وحصن شديد ؟ فارحمونا يرحمكم الله ولا تبخلوا علينا قبل أن تصيروا مثلنا يا عباد الله إن الفضل الذي في أيديكم كان في أيدينا وكنا لا ننفق منه في سبيل الله وحسابه ووباله علينا والمنفعة لغيرنا ؛ فإن لم تنصرف أي الأرواح بشيء فينصرفون بالحسرة والحرمان } ا هـ من الجامع الكبير

    Berkata Nabi saw. = Sesungguhnya Arwah-arwah kaum mu'minin itu setiap malam mendatangi langit dunia dan mereka ( arwah ) berhenti / berdiri dengan terompah mereka pada rumah-rumah mereka ( selama masih hidup ),mereka memangil / menyeru ,,setiap kali seruan dengan suara susah seribu kali seruan .Wahai ahliku dan kerabatku dan anak2 ku ..Whai orang yg telah menempati rumahku, dan memaki baju tinggalanku dan yang telah membagi warisan hartaku..Adakah dari mu seseorang yang ingat padaku dan memikirkan Rantauanku ( merantau ) Aku dalam penjara yang sangat lama,dan dalam benteng yang sangat kuat. Maka Kasianilah aku,maka Alloh akan menghasihi kalian dan jangan lah kamu pelit terhadapku sebelum kalian menjadi seperti aku ( mati ) wahai hamba2 alloh. sesungguhnya apa yang utama di tanganmu itu juga di tanganku.Dan akau tidak menafkah kan nya di jalan alloh dan aku tidak menghitungnya serta perduli terhadapnya( harta ) dan sekarang manfaat nya terhadap selain ku. Maka bila kamu tidak memberikan sesuatu pada arwah2 tadi dengan sesuatu, maka mereka para arwah akan pergi dengan kerugian dan dia akan tercengah.
    Jadi,memang demikan maksudnya dia itu minta dido'akan. memang pulang, tapi bagi yang mukmin,, dan minta ditahlilkan juga. apakah sampai pada orang yang sudah mati.Kita lihat hadist di bawah ini:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

    Begini, kita jangan hanya melihat hadist diatas saja tapi lihat hadist lain yang mengatakan, bahwa tahlilan, shodaqoh yang diperuntukan untuk mayit itu bisa sampai pada si mayit. kita lihat hadist dibawah ini:

Dalam kitab Nail al Authar juz IV juga disebutkan sebuah hadits soheh yang berbunyi:

وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ اِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يُوْصِ أَيَنْفَعُهُ اِنْ اَتَصَدَّقُ عَنْهُ؟ قَالَ نَعَمْ، (رواه أحمد ومسلم والنساء وابن ماجه)

Dari Abu Hurairah, ia meriwayatkan: Ada laki-laki datang kepada Nabi lalu ia berkata: Ayahku telah meninggal dunia dan ia tidak berwasiat apa-apa. Apakah saya bias memberikan manfaat kepadanya jika saya bersedekah atas namanya? Nabi menjawab: Ya, dapat (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’I, dan Ibnu Majah).

Hadits tersebut diatas menegaskan bahwa pahala shodakoh itu sampai kepada ahli kubur. Sementara di hadits shahih yang lain dijelaskan bahwa shodakoh tidak hanya berupa harta benda saja, tapi juga dapat berwujud bacaan dzikir seperti kalimat la illaha illallah,subhanallah,dan lain-lain sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut ini:

عَنْ اَبِي دَرْأَنْ نَاسًا مِنْ اَصْحَابِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِي ص.م يَارَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ اَهْلِ الدُّثُوْرِ بِالْاُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا تُصَلَّى وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا تَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ اَمْوَالِهِمْ قَالَ اَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ اِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ (رواه مسبلم،١٦٧٤)

“Dari Abu Dzarr RA,ada beberapa sahabat berkata kepada Nabi SAW,” Ya Rosulullah, orang-oarng yang kaya bisa (beruntung) mendapatkan banyak pahala. (Padahal) mereka shalat seperti kami shalat. Mereka berpuasa seperti kami berpuasa. Mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Nabi SAW menjawab, “ Bukankah Allah SWT telah menyediakan untukmu sesuatu yang dapat kamu sedekahkan? Sesungguhnya setiap satu tasbih (yang kamu baca) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah.” (HR. Muslim :1674 ).

Dalam hadits lain disebutkan:

وَعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ: تَصَدَّقُوْا عَلَى اَنْفُسِكُمْ وَعَلَى اَمْوَاتِكُمْ وَلَوْ بِشُرْبَةِ مَاءٍ فَاِنْ لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَى ذَالِكَ فَبِأَيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ فَادْعُوْا لَهُمْ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَاِنَّ اللهَ وَعَدَكُمُ اْلاِجَابَةِ.

Sabda Nabi: Bersedekahlah kalian untuk diri kalian dan orang-orang yang telah mati dari keluarga kalian walau hanya air setejuk. Jika kalian tak mmampu dengan itu, bersedekahlah dengan ayat-ayat suci al-Qur’an, berdoalah untuk mereka dengan memintakan ampunan dan rahmat. Sungguh, Allh telah berjanji akan mengabulkan doa kalian.

Adzarami dan Nasa’i juga meriwayatkan hadis tentang tahlil dari Ibnu ‘Abbas RA.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اَعَانَ عَلَى مَيِّتٍ بِقِرَائَةٍ وَذِكْرٍ اِسْتَوْجَبَ اللهُ لَهُ الْجَنَّةَ. (رواه الدارمى والنساء عن ابن عباس.)

Rasululloh bersabda: Siapa menolong mayit dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan Zikir, Alloh akan memastikan surga baginya.(HR.ad-Darimy dan Nasa’i dari Ibnu Abbas).

Hadis diatas juga didukung oleh hadis Nabi yang diriwayatkan oleh ad-Daroqutni dari Anas bin Malik:

رَوَى اَبُوْ بَكْرٍ النَحَادِ فِىْ كِتَابِ السُّنَنِ عَنْ عَلِى بْنِ اَبِي طَالِبِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ مَرَّ بَيْنَ اْلمَقَابِرِ فَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ اَجْرَهَا لِلْاَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنَ اْلاَجْرِ بِعَدَدِ اْلاَمْوَاتِ.

Diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Najjad dalam kitab Sunan bersumber dari Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan , Nabi bersabda: Siapa lewat diantara batu nisan, lalu membaca surat al-Ikhlas 11 kali dan menghadiahkan pahalanya untuk yang meninggal maka Alloh akan mengabulkannya.

    Dalil-dalil inilah yang dijadikan dasar oelh para ulama tentang sampainya pahala bacaan al-Qur’an,tasbih, tahlil, shalawat yang dihadiahkan kepada orang yang meninggal dunia. Begitu pula dengan sedekah dan amal baik lainnya.

    Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitab Fatawa-nya, “sesuai dengan kesepakatan para Imam bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari semua ibadah, baik ibadah badaniyah seperti shalat, puasa, membaca al-Qur’an, ataupun ibadah maliyah seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku bagi orang yang berdoa dan membaca istighfar untuk mayit.”(Hukm al-Syari’ah al-Islamiyah fi Ma’tam al_Arba’in,hal 36).
     Jadi Tahlilan,terus shodakoh untuk mayit hukumnya itu boleh dan ditrima.Tapi itu jelas bit'ah, karna di zaman nabi tidak ada tahlilan, tapi tidak bit'ah keji atau bit'ah dholalah

Minggu, 28 April 2013

PENGERTIAN TAWASUL

Tawasul[1] berarti perantara atau penghubung, sebagaimana Allah memiliki Ruhul Amiin, Jibril AS, untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW. Demikianlah pencapaian makrifat kepada Allah, yakni terungkapnya hijab dengan Allah melalui rantai-rantai wasilah, yakni perantara yang sampai kepada Rasulullah. Demikian karena si hamba dhaif lagi faqir, maka perlulah bertawassul kepada Balatentara Allah yang suci agar hajatnya mudah sampai hadhirat Allah Yang Agung lagi Suci daripada gambaran hamba yang hina.
Perintah Allah Ta’ala dalam Al-Quran:
“Wahai orang-orang yang beriman, taqwalah engkau kepada Allah dan carilah wasilah sebagai jalan yang mendekatkan dirimu kepadaNya dan bermujahadahlah (berjuanglah) pada jalanNya, supaya kamu mendapatkan keberuntungan”.[2] (QS. Al-Maidah[5]:35).
DR. Muhammad Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa Al-Wasilah adalah segala sesuatu yang dijadikan Allah sebagai penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan penyambung untuk dipenuhNya segala kebutuhan. Untuk itu, demi menjayakan tawasul, yang ditawasuli atau yang menjadi perantara itu mesti mempunyai kedudukan dan kehormatan di sisi Allah SWT sebagai yang dituju dengan tawasul.
Orang yang bertawasul dengan perantara seseorang berkeyakinan bahwa orang tersebut adalah orang saleh atau Wali Allah atau orang yang memiliki keutamaan menurut prasangka baik terhadapnya. Orang-orang tersebut dianggapnya sebagai orang yang dekat kepada Allah dan dicintaiNya. Sebab orang yang menanamkan rasa cinta dan keyakinan yang erat pada kalbunya akan dibalas karenanya. Allah SWT berfirman: “….. Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya..” (QS. Al-Maidah[5]:54). Jadi orang yang bertawasul menurut hakikatnya bertawasul kepada Allah.
Seakan-akan orang yang bertawasul kepada seorang Awliya itu berkata, “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku mencintai si Fulan. Aku berkeyakinan bahwa ia mencintai-Mu. Ia adalah orang yang suka beribadah secara ikhlas untuk berbakti kepada-Mu. Saya juga berkeyakinan bahwa Engkau mencintainya dan meridhainya. Maka aku bertawasul – membuat perantara – untuk menuju kepada-Mu dengan perantaraan kecintaanku kepadanya dan lewat keyakinanku mengenai dirinya, hendaklah Engkau mengabulkan permohonanku, dan ….” Tetapi kebanyakan orang tidak mampu merinci keyakinan mereka mengenai yang ditawasuli – yang menjadi perantara – dengan keyakinan bahwa Allah SWT Yang Mengetahui – yang mengetahui segala ada di langit dan bumi serta mengetahui kedipan mata dan apa yang tersembunyi di dada – itu lebih jeli dan lebih mengetahui keyakinan orang yang bertawasul terhadap yang ditawasuli.
Inilah juga yang mendasari tawasul dengan rabithah, yang hanya membayangkan wajah seorang Awliya (Mursyid) akan mendekatkan kalbu (dirinya) kepada Allah SWT, dan yang berabithah itu tidak merinci apa-apa yang terbetik dalam dadanya. Hal tersebut amat mujarab dan banyak terbukti, telah dilakukan oleh banyak kalangan Ahli Tasawuf dan Hakikat.
Kata-kata Al-Wasilah (perantara) yang dimuat ayat Al-Quran itu bersifat umum. Dengan demikian, ia mencakup tawasul dengan zat atau pribadi yang mulia dari kalangan para Nabi dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah wafatnya; juga mencakup tawasul kepada Allah dengan perantaraan amal-amal nyata yang baik yang diperintahkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Bahkan, amal perbuatan yang telah lalu dapat juga dijadikan sebagai wasilah atau perantara dalam bertawasul.
DR. Muhammad Al-Maliki Al-Hasani menjelaskan beberapa makna bertawasul:
1. Tawasul termasuk salah satu cara berdo’a dan salah satu pintu untuk menghadap kepada Allah SWT. Jadi, yang menjadi sasaran atau tujuan asli yang sebenarnya – dalam bertawasul – adalah Allah SWT. Sedangkan yang ditawasuli (al-mutawassal bih) hanya sekedar perantara (wasithah dan wasilah) untuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, siapa yang berkeyakinan selain demikian, sungguh ia telah menyekutukan Allah.
2. Sesungguhnya yang bertawasul itu tidak bertawasul dengan (menggunakan) perantara (al-mutawassal bih), kecuali karena ia mencintai perantara itu, seraya berkeyakinan bahwa Allah SWT-pun mencintai perantara tersebut. Jika tidak demikian, ia akan termasuk manusia yang paling jauh dari perantara tersebut, bahkan akan menjadi manusia yang paling benci kepadanya.
3. Jika yang bertawasul berkeyakinan bahwa yang ditawasuli atau yang menjadi perantara (al-mutawassal bih) itu berkuasa memberikan manfaat dan menolak mudharat dengan kekuasaannya sendiri – seperti Allah atau lebih rendah sedikit – maka ia telah menyekutukan Allah SWT.
Pada intinya tawasul itu sendiri merupakan wujud birokrasi umat sekarang terhadap umat terdahulu. Karena seandainya tidak ada jasa baik dan ijtihad umat terdahulu, maka tidak akan mungkin ada Iman dan Islam umat di akhir zaman. Inilah bukti komitmen orang yang bertawasul terhadap keberadaan mereka, sebagai realisasi perilaku orang-orang yang bermoral/berakhlak mulia.
Begitulah para ahli Thariqat, bertawasul kepada guru-gurunya hingga kepada Rasulullah SAW, yang menandakan keabsahan birokrasi Ilahiyah. Inilah kemudian yang dapat menjadikan layaknya mandat seseorang dalam memangku sebuah kepemimpinan semacam thariqat Rasul.
(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)
[1] Pengertian Tawasul secara perkataan:
“Bertawasul ia kepadanya dengan suatu wasilah, sama dengan mendekatkan diri ia kepadanya dengan suatu amal”. (Lisanul ‘Arab, Juz XIV: 250)
[2] Dalam Al-Quran ada 2 tempat yang menyebutkan ‘Wasilah’, satu ayat lainnya Surat Al-Isra’[17]: 57): “Mereka mencari perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan”.
Pembahagian Tawasul
Tawasul itu terbagi menjadi tiga tingkatan nilai. Pertama yang dinilai sebagai Tawasul bis Silsilah, yakni bertawasul dengan jalinan yang bersambungan antara orang yang bertawasul dengan Guru-guru talqin dzikir hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Tawasul inilah yang shahih dan utama, yang bersifat menyampaikan, karena mempunyai hubungan yang erat antara orang yang bertawasul dengan yang ditawasuli.
Yang kedua, dinilai sebagai Tawasul bil Barokah[1]. Yakni bertawasul dengan para Nabi, para Awliya dan Sholihin yang tidak mempunyai hubungan silsilah dzikir dengannya, meskipun jalinan yang ditawasuli itu merupakan orang yang amat dikenal kesalehannya seperti: Khalifah yang empat (Abu Bakar Ra., Umar Ra., Utsman Ra., Ali Ra.), para Imam madzhab, para Mursyid, Awliya, Shalihin, dsb. Bertawasul kepada mereka semua hanyalah sebagai penghormatan, dan kita mengharapkan keberkahan dari kesalehannya.
Yang ketiga, dimasukkan dalam kategori Tawasul lil Hadiyah. Yakni bertawasul atau memberikan Fatihah kepada orang-orang yang mempunyai hubungan/hak dengan kita, namun tidak mempunyai hubungan rantai zikir, seperti kedua orang tua, saudara-saudara kita sesama muslim, dsb. Dan kita tidak boleh menggunakan jalinan orang-orang yang masih diragukan kesalehannya, apalagi yang masih mengharapkan ampunan dan syafa’at dari orang-orang yang masih hidup. Secara syari’at kita-lah yang masih hidup yang pantas menolong mereka, bukan mereka yang kita mintakan tolong untuk menyampaikan hajat kita kepada Allah SWT.
Alat perantara zikir itu terdiri menjadi 2 bahagian: (pertama) dengan jalinan/tokoh yang telah mendapat mandat kekhalifahan (istikhlaf), dan diakui kesalehannya (dekat kepada Allah), dan (kedua) dengan amal saleh yang telah dilakukannya. Berkenaan dengan masalah ini Berkata Syaikh Ismail Al-Khalidi Rahimahullah:
“Dan wasilah (jalan) itu dengan segala macam amal salih. Dan tiadalah diperoleh amal salih itu kecuali dengan ikhlas. Dan tidaklah amal yang salih itu kecuali bersih daripada campuran-campuran kekotoran hati. Dan bagi kami telah berhasil dengan berbagai pengalaman-pengalaman bahwa sesungguhnya jika kami menyibukkan dengan Rabithah, maka hilanglah campuran-campuran lalai hati daripada amal-amal kami”. Jadi amal yang lalai itu hampa dan dengan wasilah maka hilanglah lalai itu. Sebab hilangnya lalai itu ialah Hudhurnya hati. Dan semulia-mulia & seutama-utama wasilah adalah dengan Rabithah.
Contoh bertawasul dengan amal adalah sebagaimana dituturkan oleh Rasulullah SAW kepada kita mengenai kisah 3 orang yang terhimpit di dalam gua. Hadits itu adalah sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA. Berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
‘Terjadi pada masa dahulu sebelum kalian, ada 3 orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam di dalam gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang berada dalam gua itu, jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua itu, hingga mereka tidak dapat keluar. Maka berkatalah mereka: ‘Sungguh tiada suatu yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini, kecuali jika bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah kamu lakukan dahulu kala’. Maka berkata seorang di antara mereka: ‘Ya Allah! Dahulu saya mempunyai ayah dan ibu, dan saya biasa tidak memberi minuman susu pada seorangpun sebelum keduanya, yakni ayah ibu saya meminumnya terlebih dahulu, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Maka pada suatu hari agak kejauhan bagiku menggembala ternak, hingga tidak kembali pada keduanya, kecuali sesudah malam dan ayah bundaku telah tertidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya, dan saya pun segan untuk membangunkan keduanya, dan saya pun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapa pun kecuali ayah bunda saya. Maka saya tunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum daripada susu yang saya perahkan itu. Padahal semalam itu juga anak-anakku sedang menangis minta susu itu, di dekat kakiku. Ya Allah! Jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah keadaan kami ini’. Maka menyisih sedikit batu itu, hanya saja mereka belum dapat keluar daripadanya. Orang yang kedua berdo’a: ‘Ya Allah! Dahulu saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, maka karena sangat cinta kasihku, saya selalu merayu dan ingin berzina padanya, tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta bantuan kepadaku, maka saya berikan padanya wang 120 dinar tetapi dengan janji bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada di antara kedua kakinya, tiba-tiba ia berkata: ‘Takutlah kepada Allah dan jangan engkau pecahkan tutup kecuali dengan cara yang halal. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya, dan saya tinggalkan dinar emas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah! Bila saya berbuat itu semata-mata karena mengharap KeredhaanMu, maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini. Maka bergeraklah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka belum juga dapat keluar daripadanya’. Yang ketiga berdo’a: ‘Ya Allah! Saya dahulu adalah seorang majikan yang mempunyai banyak buruh pegawai, dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu, tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu, segeralah ia pergi meninggalkan upah dan terus pulang ke rumahnya tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu hingga bertambah dan berbuah hingga menjadi suatu kekayaan. Kemudian setelah lama datanglah buruh itu, berkata: ‘Hai Abdullah! Berilah kepadaku upahku yang dahulu itu!’ Jawabku: ‘Semua kekayaan yang di depanmu itu merupakan upahmu, berupa unta, lembu, dan kambing serta budak penggembalanya’. Berkata orang itu: ‘Hai Abdullah! Kau jangan mengejekku!’ Jawabku: ‘Aku tidak mengejekmu’. Maka diambilnya semua yang saya sebut itu dan tiada meninggalkan satupun daripadanya. Ya Allah! Jika saya berbuat itu karena mengharapkan KeridhaanMu, maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini’. Tiba-tiba menyisihlah batu itu hingga keluar mereka semua dengan selamat’.[2]
Sedangkan contoh bertawasul dengan jalinan adalah sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani dalam Mu’jamus Shagir, Al-Hakim Naisaburi dalam Mustadrak ash Shihhah, Abu Nu’aim dan Baihaqi dalam Dalail An-Nubuwwah, Ibnu ‘Asakir Syami dalam Tarikh-nya, dan Imam Hafizh As-Suyuthi dalam Ad-Durrul Mantsur serta dalam Ruhul Ma’ani dengan sanad dari S. Umar bin Khatthab, menukil bahwa Nabi SAW bersabda:
“Ketika Nabiyyallah Adam melakukan dosa, ia menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata: ‘Wahai Tuhan, aku memohon kepadaMu dengan Haq Muhammad agar Engkau mengampuniku’. Lalu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Siapakah Muhammad?’ Nabiyyallah Adam menjawab: ‘Ketika Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepala ke arah ‘ArasyMu, dan lalu aku melihat, di sana tertulis: Laa Ilaaha Illallaaah Muhammadur Rosulullaah. Akupun berkata kepada diriku, bahwa tiada seorangpun yang lebih agung daripada orang yang namanya telah Engkau tuliskan di samping NamaMu’. Ketika itu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Dialah Nabi yang terakhir daripada keturunanmu, dan jika tidak karena dia, niscaya Aku tak akan menciptakanmu’.
Dalam suatu hadits yang ditakhrijkan Ibnu Majah dan An-Nisa‘i dalam Sunan-nya, demikian pula At-Tirmidzi (beliau memberikan nilai shahih atasnya), disebutkan:
“Bahwa seorang buta pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata: ‘Yaa Rasulullah, sesungguhnya aku mendapat musibah pada mataku, maka berdo’alah engkau untukku kepada Allah’. Maka sabda Nabi SAW kepadanya: ‘Berwudhulah engkau dan shalatlah 2 raka’at, lalu katakan demikian: Yaa Allah, sesungguhnya aku bermohon dan menghadap kepada Engkau, dengan Nabi-Mu Muhammad. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menuntut syafa’at engkau dalam pengembalian penglihatanku ini. Yaa Allah, perkenankanlah syafa’at Nabi ini kepadaku. Dan sabdanya: ‘Maka jika ada bagimu sesuatu keperluan, katakanlah seperti itu!’ ”
Demikianlah pembagian tawasul yang penting untuk kita pahami dengan sebenarnya. Selanjutnya cara bertawasul yang benar, harus diisi dengan hajat/keperluan yang benar pula. Sebab di masa sekarang ini, banyak orang yang menyalahgunakan tawasul untuk keperluan yang jauh dari Ridha Allah SWT, tidak sebagaimana para pendahulu kita yang menggunakan tawasul semata-mata untuk ibadah, atau mendekatkan diri (ber-taqarub) kepada Allah semata. Di antaranya adalah untuk mendapatkan ilmu-ilmu tertentu seperti kebal, dll., dijadikan nadzar untuk maksud-maksud duniawi, dsb. Kenyataan inilah yang membuktikan pentingnya pembimbing dzikir/tawasul bagi orang yang sedang menekuni jalan ini agar tetap lurus tawasul-nya awal maupun akhir.
Wallahu A’lam.
(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)

Sabtu, 01 September 2012

PERLUKAH SATPOL PP DIPERSENJATAI ?

Mengulas usulan Pemkot Malang tentang perlunya SATPOL PP dipersenjatai

 Pemerintah Kota Malang baru-baru ini mengusulkan kepada DPRD agar Satuan Polisi Pamong Praja dipersenjatai. Bukan tanpa alasan usulan itu diajukan, pemberian senjata api itu mengacu pada Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang tata kerja Satpol PP tahun 2012. Dalam aturan itu juga dijelaskan penggunaan senjata bersifat kondisional. Alasan lainnya yaitu untuk mendukung kinerjanya mengawal peraturan daerah. Namun, senjata api (senpi) yang diberikan itu hanya dikhususkan bagi komandan peleton hingga pimpinan. Pembekalan penggunaan senpi bagi Satpol telah tercantum dalam PP Nomor 6 Tahun 2008, dan legal apabila dijalankan di Kota Malang.

Namun usulan itu menuai pro dan kontra. seperti DPRD Kota Malang kurang  setuju dengan usulan Pemkot Malang terkait rencana Satpol PP untuk dipersenjatai. Dengan pertimbangan, saat ini Kota Malang masih dinilai kondusif. Pansus Ranperda tentang organisasi tugas Satpol PP berpendapat bahwa saat ini Satpol PP memang belum butuh untuk dipersenjatai. Sebab, yang ditangani Satpol PP adalah bukan tindakan kriminal. Selain itu, saat ini kondisinya malang masih sangat kondusif. Jika untuk penegakan Perda, lebih baik Satpol PP menggunakan pendekatan secara preventif daripada konfrontatif. Dengan cara itu, hasilnya pasti akan lebih maksimal.

Lain lagi dengan pendapat pengamat militer, menurutnya SATPOL PP sudah saatnya untuk dipersenjatai. Meskipun ranah yang ditanganinya bukanlah ranah kriminal, namun tugas yang diembannya sangatlah dekat dengan "kekerasan" yang bisa jadi dapat membahayakan jiwa anggota Satpol PP. Lagi pula memegang senjata api itu ada prosedur yang harus dilewati. Jadi tidak perlu dikhawatirkan.

Lalu bagaiman tanggapan warga malang ? ...... mayoritas warga tidak setuju dengan usulan Pemkot Malang. Melihat potret Satpol PP selama ini yang identik dengan garangnya ketika bentrok dengan warga mungkin masuk akal dengan alasan itu. Warga mengkhawatirkan jika satpol PP benar-benar dipersenjatai nanti justru tambah arogan.

Namun semua itu bisa dikaji ulang. Kita yakin Wakil-wakil kita mampu memilih dan memilah serta meberlakukan kebijakan dengan bijaksana. Sebagai warga malang yang paling penting adalah terwujudnya kesejahteraan rakyat serta kehidupan yang damai. Salam satoe jiwa





Rabu, 29 Agustus 2012

KESEDERHANAAN, KEPEKAAN SOSIAL DAN KEPEDULIAN

Oleh : Farid Ulinnuha
( Ketua Ansor ranting Tamanayu )

Akhir-akhir ini kita sering mendengar anjuran untuk berprilaku hemat dalam segala hal. Anjuran itu tidak hanya datang dari pemerintah dengan programnya hemat energi, namun anjuran hemat juga sering didengungkan oleh beberapa iklan sebuah produk agar kita memilih barang yang lebih hemat. Jika kita renungkan lebih dalam, istilah hemat lebih mengarah pada pola hidup sederhana. Kita tentu tidak ingin anjuran itu hanya menjadi slogan saja, tetapi betul-betul hidup sederhana tanpa berlebih-lebihan materi, ucapan dan perbuatan serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh semua lapisan masyarakat tanpa memandang status sosialnya.

    Konsep hidup sederhana, Rosululloh mengajarkan kepada umatnya agar jangan makan dan minum terlalu kenyang. Jangan berpakaian berlebih-lebihan, bahkan dianjurkan untuk memberikan kelebihan kita pada hari ini kepada mereka yang membutuhkan. Dari konsep tersebut bisa disimpulkan bahwa perilaku hemat atau pola hidup sederhana merupakan manifestasi iman seorang muslim.
Pola hidup sederhana akan menumbuh kembangkan rasa solidaritas serta kepekaan sosial dalam diri kita untuk lebih peduli kepada sesama. Kita harus ingat mungkin diantara warga Ansor ada yang masih sulit perekonomiannya dan masih berpenghasilan rendah, dengan pola hidup sederhana mungkin kita bisa saling membantu dengan kelebihan kita hari ini. Pola hidup yang demikian akan memperkokoh persatuan dan meningkatkan kesadaran akan kebersamaan.

Namun tentunya sebagai warga dari sebuah organisasi yang cerdas kita dapat memberikan bantuan secara tepat, sehingga bagi orang yang kita bantu dapat pula digunakan secara tepat dan "positif". Artinya bantuan tersebut bisa di "gerakkan" secara terus-menerus yang akhirnya bisa mengangkat perekonomian secara sedikit demi sedikit. Sebab bentuk bantuan yang bersifat "membodohi" akan menjadikan orang yang kita bantu hidup dalam "ke-enjoy-an" yang sesaat, dan akhirnya akan kembali lagi pada kehidupan semula.

Jika kita melihat realita sekarang ini, mungkin hanya rakyat pedesaan dan orang-orang yang hidup dipinggiran kota sajalah yang mempraktekkan pola hidup sederhana. Mereka yang berkecukupan belum sepenuhnya menerapkan pola hidup sederhana, tapi justru malah terkesan memperlihatkan kemewahan.