Selasa, 18 September 2012

BISNIS PROSTITUSI TUMBUH SUBUR DI INDONESIA (bagian II)



Kita tentu tahu (meski tak pernah mampir) tempat-tempat lokalisasi diwilayah kita tinggal, sebegitu banyaknya. Begitupun diwilayah lain, hampir diseluruh wilayah Indonesia lokalisasi atau tempat prostitusi ada. Bahkan dengan lokalisasi DOLLY di Surabaya Jawa Timur,  Indonesia pernah menyandang gelar sebagai pemilik lokalisasi terbesar di Asia.

Lebih konyol lagi ketika wacana legalisasi bisnis prostitusi di Indonesia sedang hangat dibicarakan kala itu, justru banyak yang setuju dan mendukung. Untungnya wacana itu tenggelam dengan sendirinya. Andai kata wacana itu benar-benar terealisasi, bisa jadi bisnis prostitusi beserta tempat lokalisasi di Indonesia akan berada dibawah Dinas Pariwisata. Wuih… jadi ada istilah wisata paha.



Tidak dapat dipungkiri jika kemajuan teknologi IT  membawa dampak pula pada bisnis prostitusi di Indonesia. Satu diantara sekian banyak pemanfaatan IT yakni fenomena transaksi prostitusi yang dilakukan lewat internet. Meski bukan hal baru, namun terbukti bisnis haram ini masih terus hidup dan memiliki jumlah peminat yang tak sedikit.  

Dengan terang-terangan para mucikari menawarkan dagangannya, pelanggannya pun beragam. Mulai dari tukang cukur, mahasiswa, pejabat sampai konglongmerat. Celakanya lagi bisnis ini merambah kalangan pelajar. Genarasi bangsa yang seharusnya belajar justru sibuk menjajakan “barangnnya”.
 
Begitu mengguritanya bisnis pelacuran di Indonesia. Tertangkapnya Yunita (34) alias Keyko, penyalur pekerja seks komersial (PSK) kelas atas di Surabaya, seakan membuktikan jika bisnis prostitusi di Indonesia kian tumbuh subur. Bagaimana tidak, seorang Yunita mampu mengendalikan ratusan PSK dibawah subgermo diberbagai wilayah di Indonesia. Seperti Data yang dihimpun di Polrestabes Surabaya menyebutkan, setiap kota ada seorang subgermo yang membawahi PSK-PSK tersebut. Di Surabaya sebanyak 790 orang, Malang 50 orang, Semarang 400 orang, Banjar sebanyak 125 orang, dan Jakarta sebanyak 500 orang.
Itu baru satu orang yang mungkin kebetulan tertangkap. Mungkin diluar sana masih ada puluhan lagi mucikari-micikari sekelasYunita.
Anda pasti tidak mengira jika perdagangan manusia (human trafficking) banyak terjadi di Indonesia. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja kejahatan ini bisa terjadi pada siapapun termasuk anak-anak. Perdagangan manusia bisa berbentuk prostitusi maupun ekaploitasi seksual terhadap anak-anak.



Ternyata menurut PBB, Indonesia merupakan negara terbesar ke-2 di Dunia yang aktif melakukan kejahatan ini karena secara global, Indonesia dikenal sebagai Sending, Transit sekaligus Producing Area untuk perdagangan manusia. Ironisnya lagi, sebagian besar kasus perdagangan manusia di Indonesia diakibatkan himpitan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar