Selasa, 18 September 2012

KRITIK OTO-KRITIK POLA PENGKADERAN DITUBUH ANSOR

(Mendaur ulang pemikiran Nusron Wahid)

Oleh : Farid Ulinnuha *
*( Ketua Ranting GP Ansor Tamanayu )

            GP ANSOR (Gerakan Pemuda Ansor) selama ini dinilai banyak kalangan sebagai organisasi yang dinamis berwacana, yang mana kader dan out put-nya (alumni) bisa di “jagokan”. Tak sedikit dari mereka mengatakan bahwa kader-kader Ansor itu “bisa diandalkan”, tetapi sayang tidak semuanya tuntas dalam hal pengkaderannya. “Cibiran” itu belum tentu benar sepenuhnya. Namun kita selaku warga Ansor tentu bisa menilainya dengan melakukan retrospeksi atas perjalanan GP Ansor selama ini.
            Indikator termudah dan seringkali dijadikan tolak ukur keberhasilan dari sebuah organisasi adalah seberapa banyak (kuantitas) dan seberapa hebat (kualitas) integritas maupun kapabilitas kader maupun out put (alumni) yang dihasilkannya. Miskinnya sebuah organisasi dalam mereproduksi intelektual, tokoh atau pemimpin yang memiliki kecakapan yang profesional, kritis, visioner dan berkarakter, akan menunjukkan macetnya sebuah organisasi yang berarti pula kegagalan kaderisasi di tubuh organisasi tersebut.
            Organisasi kepemudaan seperti halnya Ansor, selama ini dianggap sebagai agen generasi penerus yang didalamnya tersedia calon-calon pemimpin dengan berbagai disiplin ilmu serta pengalaman yang tidak diragukan lagi. Tetapi apakah benar demikian ? Sebab rata-rata sebuah pergerakan pemuda ataupun organisasi kepemudaan tak ubahnya seperti kelompok/ Jama’ah Tahlil yang didalamnya vakum akan kederisasi dan “pendigdayaan” intelektual warganya. GP Ansor merupakan wadah kader-kader NU dengan basis massa terbesar di Indonesia. Beban berat tersandang di pundak Ansor. Sebab besarnya massa yang dimiliki menuntut Ansor harus mampu mencerdaskan serta mencetak kader-kader yang siap pakai dan juga mampu mengantarkan warganya sebagai generasi penerus agama dan negara yang tetap memegang teguh kaidah nilai-nilai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
            Kader merupakan roh organisasi. Oleh karena itu pengkaderan di tubuh GP Ansor harus diformulasikan secara sistemik dan terencana dengan baik, sehingga menjadi ujung tombak keberlangsungan dan kesinambungan dinamika organisasi. Tersistematis artinya, pola pengkaderan di tubuh GP ansor mengandung esensi dalam rangka memformulasikan tahapan jenjang kader yang dibangun diatas kerangka pijakan yang jelas dalam bingkai ideologi dan paradigma gerakan, serta menyangkut muatan yang harus dipunyai  oleh kader. Terencana artinya, pengkaderan di dalam Gerakan Pemuda Ansor diproyeksikan bagi terlaksananya pola kaderisasi yang tersusun secara regular, berjenjang dan sesuai dengan vivi misi organisasi. Tidak tuntasnya pengkaderan akan berimplikasi pada menurunnya kritisme pemikiran serta kualitas kader yang kurang mumpuni, sehingga kurang bisa "diandalkan".                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
          Kalau toh kemudian ada beberapa kader Ansor yang kritis, piawai dalam gerakan dan pemberdayaan serta “melek” wacana (intelektual), itu lebih dikarenakan kuatnya kemauan dan kerja keras individu itu sendiri, bukan imbas nyata dari proses pengkaderan yang terencana dan tersistemik dari Ansor. Bahkan kalau ingin mengasah dan menambah kemampuan intelektual serta menemukan tempat yang kondusif bagi pergulatan dengan segala discourse keilmuan, keIslaman ataupun social humaniora, harus mencarinya di tempat lain diluar Ansor. Bahkan mungkin mereka lebih banyak bergabung dengan kelompok kajian, yang justru disana mereka tidak akan pernah menemukan kajian tentang NU dan Aswaja, sebab kelompok-kelompok tersebut diluar tradisi keNU-an.
Fenomena diatas sungguh ironis, sebab Ansor tidak lagi diyakini mampu mewadahi sejuta idealisme generasi muda NU, baik dalam ranah pemikiran, gerakan maupun pemberdayaan. Justru kelompok kajian dan organisasi semi legal lainnya yang tidak memiliki keterkaitan struktural apapun dengan NU yang mampu memberikan apa yang mereka butuhkan. Fenomena ini akan sangat membahayakan eksistensi NU kedepannya.
            Beberapa kalangan menilai, bahwa pengkaderan didalam GP Ansor sudah cukup baik, namun terfokus pada bidang keBanser-an, yang out putnya memang tidak bisa diremehkan dan bisa diterima serta disegani oleh semua kalangan termasuk kalangan non muslim. Hal itu dibuktikan ketika ada konferensi Biksu se-Asia Tenggara yang bertempat di Wihara Tegalasri Kabupaten Blitar, disana yang menjadi pasukan pengamanan di dalam Wihara sepenuhnya dipercayakan kepada Banser. Dari segi kualitas dan kuantitas Banser sudah mumpuni. Seandainya kita hitung jumlah (segi kuantitas) Banser yang ada di Jawa Timur saja mungkin jumlahnya sepuluh kali lipat jumlah  pasukan Kodam V Brawijaya serta siap digunakan (segi kuantitas) dalam situasi dan kondisi apapun, karena memang Banser telah tuntas dikader dalam bidangnya.
            Namun disisi yang lain tentunya dalam hal “pendigdayaan” intelektual dirasakan masih sangat kurang. Sehingga khalayak mempunyai anggapan bahwa Ansor itu organisasi yang kader-kadernya “jadug-jadug” tetapi lemah dalam hal pemikiran. Bukan penilaian yang mengada-ada namun hal itu harus diterima dengan hati yang “legowo” . Sudah saatnya kita sebagai warga organisasi merekontruksi pola pengkaderan di tubuh Ansor. Inovasi sistem pengkaderan harus digulirkan, untuk merespon tuntutan jaman yang kian beragam serta untuk menjaring generasi yang kini kian menjauhi kegiatan yang berbau keagamaan.
            Meski begitu kita patut bangga dan semua harus mengakui bahwa kader-kader Ansor mampu menembus level nasional serta mampu mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Kader-kader Ansor tersebar diberbagai sektor kehidupan kemasyarakatan serta beberapa sebagaian diantaranya dipercaya menduduki “profesi” bergengsi. Ada yang menjabat Menteri, Wakil Gubernur, Anggota Dewan atau paling tidak mereka menjadi tokoh kunci didaerahnya masing-masing. Realitas ini tentunya cukup menggembirakan. Namun hal itu masih belum bisa dijadikan satu-satunya parameter bahwa pengkaderan ditubuh Ansor telah berhasil dan sesuai dengan sistem pengkaderan yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar